Pengertian, penyebab dan diagnosis taeniasis

Desember 20, 2019 Kesehatan  No comments

Taeniasis adalah penyakit dari infeksi cacing pita. Terlihat memang infeksi parasit yang dapat ditangani dengan mudah akan tetapi apabila menyebar pada organ tubuh akan  mengalami masalah serius. Banyaknya penderita taeniasis tidak menunjukkan gejala. Keadaan ini baru diketahui saat melihat keberadaan cacing pada tinja. Cacing pita sering terlihat dalam bentuk  datar dan persegi panjang, berwana kuning pucat atau putih, menyerupai sebutir beras. Terkadang cacing juga bisa menyatu bersama dan membentuk rantai panjang. Keberadaan cacing dapat berpindah-pindah.Gejala yang muncul pada infeksi cacing pita di usus, meliputi :Mual, nafsu makan menurun, diare, sakit perut, makan-makanan asin, penurunan berat badan, dan pusing.Pada penderita taeniasis dapat mengalami iritasi di bagian anus juga keluarnya telur dewasa.

Adapun cara mendiagnosis, antara lain:

  1. Analisis sampel tinja. Sampel tinja diambil untuk diteliti di lab menggunakan mikroskop guna mengetahui keberadaan telur atau bagian tubuh cacing pita pada tinja. Sampel telur cacing pita bisa juga diambil dari bagian anus.
  2. Tes darah lengkap.

Tes ini digunakan untuk melihat antibodi dalam tubuh yang bereaksi terhadap infeksi cacing pita.

  1. Uji pencitraan.

Pada dasarnya  menggunakan alat tes, seperti CT scan, foto Rontgen, MRI, atau USG, guna mengidentifikasi infeksi berat.

 

Setelah adanya diagnosis taeniasis, maka dokter akan memberi penanganan dengan pemberian obat. Obat-obatan yang biasa diberikan untuk taeniasis, meliputi: (a) obat anthelmintik. Obat ini dapat membunuh cacing pita. (b) obat antiinflamasi. Kista cacing pita yang mati bisa menyebabkan jaringan menjadi bengkak dan meradang. Obat diberikan guna menghilangkan bengkak (c) obat antikejang.

Taeniasis dapat terjadi ketika telur atau larva cacing pita ada di tempat  usus penderita. Cara telur atau larva caing pita dapat masuk melalui:

  1. Pada daging babi, sapi, atau ikan air tawar yang tidak dimasak hingga matang.
  2. Adabya air kotor yang mengandung larva cacing, menyebabkan terkontaminasi kotoran  yang terinfeksi.
  3. Melakukan kontak yang dekat dengan penderita infeksi cacing pita misalnya terdapat pada pakaian. Cacing pita dewasa dapat tumbuh sampai sepanjang 25 meter, dan  hidup di usus manusia hingga 30 tahun. Setiap bagian dari tubuh cacing pita dapat menghasilkan telur yang dikeluarkan dari tubuh. Penyebaran melalui kontak dengan kotoran terdapat pada cacing pita  bisa terjadi apabila kurangnya kebersihan diri dan lingkungan.

Beberapa faktor dapat menyebabkan adanya resiko menderita taeniasis, antara lain: (a) Berada dalam lingkungan dengan kondisi yang buruk kemungkinan tersebarnya kotoran bisa melalui udara dan keadaan sekitar adapula telur yang menempel di kotoran bisa jadi penyebaran dimulai saat itu juga. Tersebar layaknya udara bisa membuat penyebaran cukup luas, jika ada lingkungan kumuh maka penyebaran akan semakin cepat terjadi. (b) Tinggal di area negara yang sering mengonsumsi daging babi, sapi, atau ikan air tawar yang terdapat cacing pita. Untuk lebih waspada terkena cacing pita, maka lebih baik di masak dengan matang apabila ingin mengkosumsi daging karena banyaknya penyakit di saat sekarang akan memperburuk keadaan juga memberikan komplikasi serius. (c) kekebalan tubuh menurun sehingga tidak mampu melawan infeksi atau cacing yang ada. (d) Kondisi ini banyak terjadi pada penderita yang cukup serius HIV AIDS, diabetes, kanker yang menjalani kemoterapi, serta penderita yang melakukan transplantasi organ. Penanganan akan serius bila gejala taeniasis  semakin lama semakin parah.

Referensi

Alodokter.com

Referensi gambar:

phaa.com

 

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>